sponsor

sponsor
Select Menu

Favourite

Berita

Acara dan Event

Inspirasi

Strategi

Profil

Hobi

Gaya Hidup

Ulasan Buku dan Software

Kuliner

Banyak orang yang ingin berwira-usaha, ada yang sudah siap modal dan perencanaan yang njlimet, ada yang baru sekedar gagasan aja. Namun, ada yang punya uang tapi bingung mau ngapain, dan mulai dari mana. Banyak usahawan sukses karena kelihaian dalam memulai dan memperluas usaha. Berikut 14 cara yang sering mereka pakai, dan berhasil atau tidaknya tergantung upaya dan do’a kita. Meski begitu, ini bisa di jadikan wacana alternatif sebelum memulai usaha, dan menjadikannya refrensi:

1.  Penuhi Kebutuhan Konsumen
Ini merupakan cara buka usaha yang paling umum. Jika di sekita rumah ada yang butuh jasa binatu, warnet, lauk matang, rental computer, kursus, dll, buka usaha sesuai kebutuhan mereka. Kuncinya, penuhi kebutuhan konsumen, lalu berikan produk dan layanan terbaik. Usaha berdasarkan kebutuhan adalah prinsip semua jenis usaha.

2.  Jual Keunikan
Jika kita lumayan kreatif dan inovatif, pasti banyak hal yang bisa di kreasikan. Banyak usaha baru dimulai dari penemuan produk baru, teknologi, system, dan program baru. Bahkan menulis buku dengan ide-ide baru pun bisa di perhitungkan, dan banyak yang sukses di jalan ini. Penemuan baru apalagi khas dan unik, sangat berpeluang menembus pasar.

3.  Duplikasi Usaha Lain
Bagi mereka yang kurang kreatif dan inovatif, jangan patah arang. Terkadang ide usaha tersebar dimana-mana, bahkan mungkin didepan mata kita. Kita hanya perlu membaca peluang, mengukur potensi, dan mengambil resiko. Misalnya, disekitar rumah kita karena dekat dengan kampus ada tukang foto kopi yang laris, apa salahnya menyaingi usaha  tersebut, tinggal memberikan nilai lebih dari usaha kita.

4.  Beri Fasilitas Tambahan
Mirip cara sebelumnya, hanya saja diperlukan sedikit kreatifitas. Misalnya jika ingin membuka usaha warung sembako, berikan penawaran harga yang kompetitif dan tempat yang nyaman untuk pembeli bercengkrama dengan pembeli lain, sehingga pembeli betah berlama-lama belanja di took kita, dan sediakan juga snack dan minuman ringan, wih lengkap deh..

5.  Jual Keterampilan
Jeli mengenali bakat orang, itu pun bisa menjadi bisnis yang menantang. Banyak orang berbakat yang jika di kembangkan dan diberikan tempat bisa dijual mahal. Tempat-tempat seperti restoran, toko-toko, salon, kursus, servis, mal, dan pasar adalah gudangnya orang berbakat. Ambil 2-3 orang pemangkas rambut dari salon-salon kecil, sewakan tempat yang bagus, alat yang lengkap, brand khusus, dan training mengenai pelayanan yang baik. Maka usaha salon eksklusif sudah bisa dimiliki.

6.  Jadi Agen
Mirip dengan sebelumnya, misalnya membuka agen modeling, agen tenaga kerja, pembantu rumah tangga, pengisi acara hiburan, pernikahan, dll. Untuk usaha ini diperlukan pengalaman dan relasi yang luas. Tapi tak perlu khawatir, untuk hal ini juga bisa pekerjakan orang yang berpengalaman dibidang tersebut.

7.  Jual Barang Second
Masih sedikit orang yang peka dengan jenis usaha ini. Barang second dengan nilai historis tertentu bisa punya harga tinggi. Untuk memulai bisa dengan berburu barang-barang bermerk asli yang sudah tidak terpakai lagi, dan menjualnya ditempat lain dengan harga special. Banyak ekspatriat, selebritis, pengusaha, sampai jendral yang memiliki selera berpakaian tinggi, kita bisa membeli koleksinya yang sudah tidak terpakai, sukur-sukur kalau gratis, he..he..

8.  Buka Kantor
Misalnya untuk akuntan, dokter, pengacara, notaries, desainer, trainer ataupun konsultan. Dengan mengajak kolega dan teman seprofesi bisa diajak patungan untuk membuka kantor sendiri. Juallah skill dan pengalaman. Jika reputasi bagus, jaringan luas, jangan takut kekurangan klien.

9.  Beli Waralaba
Yang modalnya lumayan besar, dan tidak mau memikirkan produk sendiri, bisa memilih membeli franchise (waralaba). Butuh kejelian membaca waralaba mana yang bagus, berikut kemampuan membaca potensi pasarnya. Kini banyak pilihan waralaba, dengan modal besar atau sedang-sedang saja.

Sumber : dulunyakaryawan.blogspot.com | 2014-04-14
Mungkin Anda pernah atau akan mengalami hal-hal ini:
  • Merasa produk Anda luar biasa, tapi koq gak laku di pasaran.
  • Produk Anda sudah didistribusikan di tempat yang strategis, tapi koq sepi pembeli.
  • Anda telah menghabiskan dana promosi puluhan hingga ratusan juta, tapi produk tetap lambat bergerak.
  • Sementara produk ‘tetangga’ yang seolah biasa saja, tapi laku keras.
  • Sudah lebih dari 1 tahun masih berjalan di tempat. Ujung-ujungnya, bukannya untung, tapi buntung.
  • Atau Anda ingin memulai suatu bisnis yang langsung laris..?
Tak heran untuk menemukan formula laris, seorang pengusaha harus menghabiskan ratusan juta hingga miliaran rupiah. Biaya trial error memang mahal, tapi lebih mahal lagi adalah waktu dan energi yang terbuang.

Dimana letak kesalahannya..?

Seperti mengadon suatu kue, inilah yang diperlukan:
  • Komposisi bahan
  • Takaran
  • Urutan
  • Waktu/durasi
  • Cara pengerjaan
  • Alat bantu
Satu saja terlewat, jadilah bantat..

7 Formula Mencipta TREN ini sangat cocok bagi Anda yang ingin:
  • Mendapatkan ilmu praktis, bukan teoritis.
  • Merangsang keluarnya ide-ide liar Anda.
  • Menghindari trial-error dalam membuka usaha.
  • Mencetak omzet MILIARAN perbulan.
  • Mengembangkan bisnis dalam kondisi kekurangan modal.
  • Langsung meledakkan omzet saat bisnis dibuka dan terus meroket.
Low Budget

Alangkah tidak serunya jika formula mencipta tren hanya berlaku untuk mereka yang berkantong tebal saja. Justru kelebihan formula ini adalah:

“Bagaimana caranya dengan dana yang minimum, menghasilkan lompatan bisnis dan omzet yang maksimum?”


DURASI: 5 jam ++ (12:00 – 17:00 WIB)

TERBATAS 200 KURSI SAJA..! Tak akan terulang lagi..!!!

 Inilah 7 Formula Mencipta TREN:
  1. Bidik Pasar Potensial.
  2. Produk Ngangenin.
  3. Merek yang Ngetop.
  4. Kemasan Pertama diambil.
  5. Saluran D=P.
  6. Penyebar Virus.
  7. Pengungkit Konversi
CATATAN:
  • Bagi yang sudah memiliki produk, disarankan membawa sample produk dan kemasan untuk direview oleh Mas J.
  • Yang ingin menguji seberapa ‘ngangenin’ produk (makanan) Anda, bisa membawa sample. Sebaiknya minimum untuk 50 orang.
  • Disewakan 10 tempat untuk stand pameran, hanya dengan membayar 1 juta rupiah. Free 2 tiket.

PROFIL Jaya Setiabudi (Mas J)
  • Praktisi pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun. Juga mentor bisnis yang telah terbukti melahirkan pengusaha-pengusaha sukses di bidangnya.
  • Penulis Mega Best Seller “The Power of Kepepet” (15x cetak dan masih terus dicetak ulang) dan “Kitab AntiBangkrut” (20 ribu eksemplar).
  • Pendiri Entrepreneur Camp (2006), dengan alumni lebih dari 3000 orang se-Indonesia.
  • Pendiri Young Entrepreneur Academy (2007) Bandung, dengan rekor lebih dari 90% lulusannya adalah pengusaha.
  • Ciri khas seminar Mas J adalah berisi ‘daging’ praktis (bukan motivasi), yang akan membuat Anda sukar tidur setelah mengikutinya.
“Jangan sampai Formula ini diketahui oleh competitor Anda..!”

http://yuk.bi/taae9
                                                


Puspo Wardoyo, merintis waralaba Ayam Bakar Wong Solo hingga menjadi sebesar sekarang ini dari titik paling bawah. Ia pernah menjajakan ayam bakar di kaki lima. Sejak kecil Puspo sudah terbiasa berurusan dengan ayam. Orangtuanya penjaja ayam. Pagi hari, Puspo kecil membantu menyembelih ayam untuk dijual di pasar. Siang sampai malam, ia membantu orangtuanya menjajakan menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan menu ayam lainnya di warung milik orangtuanya di dekat kampus UNS Solo.

Impian itu sendiri terinpirasi oleh cerita seorang pedagang bakso yang sukses mengarungi hidup di Medan. Ketika pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo.
Dia bercerita bahwa peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Pedagang bakso itu telah membuktikannya. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990 itu sekitar Rp 300.000. Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan. "Dengan uang, jarak antara Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang, " kata Puspoyo menirukan ucapan temannya tadi. Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara MedanSolo Berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sementara dengan naik bis jarak antara SoloSemarang ditempuh sekitar empat jam.

Cerita sukses temannya itu begitu membekas di benak Puspo. "Saya bertekad bulat akan merantau ke Medan, " pikirnya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, apa boleh buat, warung makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu pun ia jual kepada temannya. Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket bus ke Jakarta. Mengapa Jakarta? "Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum cukup untuk merantau ke Medan, " katanya.

Ketika tengah merantau di ibu kota itu, suatu hari Puspo membaca lowongan pekerjaan sebagai guru di sebuah perguruan bernama DR Wahidin di Bagan Siapiapi, Sumatera Utara. Apa boleh buat, demi mewujudkan citacitanya, ia berusaha mengumpulkan modal dengan kembali menjadi guru. Bedanya, kali ini ia tidak lagi menjadi pegawai negeri seperti sebelumnya ketika menjadi staf pengajar mata pelajaran Pendidikan Seni di SMA Negeri Muntilan, Kabupaten Magelang. "Target saya cuma dua tahun menjadi guru lagi," katanya.

Di sinilah anak pasangan Sugiman Suki ini ketemu dengan isteri pertamanya Rini Purwanti yang sama-sama menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut. Dua tahun menjadi guru ia berhasil mengumpulkan tabungan senilai Rp 2.400. 000. Dengan uang inilah keinginannya menaklukkan kota Medan tak terbendung lagi. Uang tabungan itu sebagian ia gunakan untuk menyewa rumah dan membeli sebuah motor Vespa butut. Masih ada sisa Rp 700.000 yang kemudian ia manfaatkan sebagai modal membangun warung kaki Lima di bilangan Polonia Medan.
Disini ia menyewa lahan 4x4 meter persegi seharga Rp 1.000 per hari. Suatu saat pegawainya tertimpa masalah. Ia terlibat utang dengan rentenir. Puspo membantunya dengan cara meminjamkan uang. Sebagai ucapan terimakasih, sang pegawai membawa wartawan sebuah harian lokal Medan. Si wartawan yang merupakan sahabat suami pegawai yang ditolong Puspo kemudian menuliskan profilnya. Judul artikel itu Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo. Artikel itu membawa rezeki bagi Puspo. Esok hari setelah artikel dimuat, banyak orang berbondong-bondong mendatangi warungnya. Siapa sangka jika dari sebuah warung kecil ini kemudian melahirkan sebuah usaha jaringan rumah makan yang cukup kondang di seantero Medan. Impian untuk menaklukkan "jarak" Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang pun menjadi kenyataan. Bukan itu saja, penilaian atas prestasi bisnis yang dirintis Puspo lebih jauh melewati impian yang ia tinggalkan sebelumnnya.

Dari ibu kota Sumatera Utara ini nanti Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (Wong Solo) melejit ke pentas bisnis nasional. Belakangan ini nama Wong Solo semakin berkibarkibar setelah berhasil menaklukkan Jakarta setelah sebelumnva "mengapung" dari daerah pinggiran. Dalam waktu relatif singkat kehadiran Wong Solo telah merengsek dan menanamkan tonggaktonggak bisnisnya di pusat kota metropolis ini. Ekspansinya pun semakin tak tertahankan dengan memasuki berbagai kota besar di Indonesia.

Fenomena Wong Solo mengundang decak kekaguman berbagai kalangan dari pejabat pemerintah, para pelaku bisnis hingga para pengamat. Hampir semua outletnya di Jakarta selalu sesak pengunjung, terutama di akhir pekan dan hari libur. Bahkan ketika bulan Ramadhan kemarin, semua outlet tersebut membatasi jumlah pengunjung saat berbuka puasa.

Skala usaha Wong Solo itu memang belum sekelas para konglomerat masa lalu yang dengan enteng menyebut angka aset, omset atau keuntungan per tahun yang triliunan rupiah. "usaha saya memang belum kelas triliunan seperti para konglomerat yang kaya utang itu," paparnya. Kendati masih tergolong usaha menengah, namun kinerja wong Solo sangat solid dan tak punya beban utang. Ia memiliki pondasi kuat untuk terus berkembang. Untuk mewujudkan mimpimimpinya, ayah sembilan anak dari empat istri ini telah melewati rute perjalanan yang berlikaliku lengkap dengan segala tantangannya.

Ada masa ketika di waktuwaktu awal merintis usaha di Medan ia nyaris patah semangat garagara selama berhari-hari tak pernah meraih untung. Hanya berjualan dua atau tiga ekor ayam bakar plus nasi, terkadang dalam satu hari tak seekor pun yang laku. Pernah pula seluruh dagangannya yang telah dimasak di rumah tumpah di tengah jalan karena jalanan licin sehabis hujan. "Apa boleh buat, saya terpaksa pulang dan memasak lagi". katanya. Istrinya yang tak sabar melihat lambannya usaha Puspo bahkan sempat memberi tahu ayahnya agar memberitahu ayahnya agar mempengaruhi Puspo supaya tak berjualan ayam bakar lagi. "Mertua saya bilang, kapan kamu akan tobat," katanya menirukan ucapan sang mertua.

Pada awal perantauannya ke Medan, Puspo wardoyo, sama sekali tak menyangka jika usaha warung ayam bakar “Wong Solo” akan berkembang seperi sekarang. Maklum, rumah makan yang dibukanya hanyalah sebuah warung berukuran sekitar 3x4 meter di dekat bandara Polonia, Medan. Setahun pertama dia hanya mampu menjual 3 ekor ayam per hari yang dibagibagi menjadi beberapa potong. Harga jual per potongnya Rp 4.500 plus sepiring nasi.

Di tahun kedua, naik menjadi 10 ekor ayam per hari Namun sekarang, 13 tahun kemudian, di memiliki lebih dari 16 cabang tersebar di medan, Banda Aceh, Padang, Solo, Denpasar, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Jakarta, Malang dan Yogyakarta meskipun masih mengandalkan ayam bakar, namun menunya kini makin beragam hingga 100 jenis. Sudah terbiasa bagi Wardoyo untuk menyisihkan 10 % dari keuntungannya untuk amal. Dia percaya, Tuhan akan memperkaya orang yang banyak beramal.

Maka jangan heran bila Anda kebetulan mampir di salah satu rumah makannya menyaksikan karyawannya sedang berkerumun di saat menjelang atau usai jam kerja. Mereka sedang melaksanakan ibadah “kultum” atau kuliah tujuh menit.
Promosi dari mulut ke mulut membuat warungnya makin terkenal.

Terlebih ketika seorang wartawan daerah membuat tulisan tentang “Wong Solo”, makin ramai saja orang yang makan ke warungnya. Pernah suatu hari dia kewaalahan memenuhi pesanan pelanggan. Di saat tiga ekor ayam jualannya habis, datang pembeli lain yang bersedia menunggu asalkan Wardoyo mau mencari ayam batu ke pasar. Diapun memenuhi permintaan pelanggan tersebut dengan membeli tiga ekor ayam lagi. Namun datang lagi pelanggan lain yang juga bersedia menunggu Wardoyo mencari ayam ke pasar. “Seharian itu, hingga larut malam saya pontang panting ke pasar untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus berdatangan,” kata Wardoyo mengenang.

Bersamaan dengan bertambahnya pelanggan, dua tahun kemudian Wardoyo memperluas warungnya hingga layak disebut rumah makan. Jiwa seni Wardoyo nampak tergurat pada bentuk bangunan dan penampilannya yang cenderung “nyleneh”. Dalam bentuk bangunan, misalnya, Wardoyo tak segansegan mengeluarkan uang cukup besar untuk membayar seorang arsitek guna mewujudkan imajinasinya terhadap suatu bentuk bangunan.
Perpaduan seni dan entrepreneurship Wardoyo juga tertuang dalam pendekatan terhadap konsumen. ”Saya berusaha menghafal namanama semua pelanggan saya. Sehingga sewaktu mereka datang saya harus menyambut mereka dengan menyebut namanya,” papar Wardoyo. Inilah yang disebutnya sebagai “menjadikan pelanggan sebagai saudara”.

Seiring dengan berkembangnya “Wong Solo”, Puspo Wardoyo membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menikmati nilai tambah Wong Solo melalui system waralaba. Untuk waralaba tersebut, Wardoyo telah membuat standarisasi dalam hal rasa dan gerai (outlet). Jika seseorang membeli waralaba “Wong Solo” di Jakarta, dipastikan sama rasa dan penataan gerainya dengan “Wong Solo” Medan atau di tempat lain.
Setelah sukses membesarkan “Wong Solo”, apa harapan Puspo Wardoyo selanjutnya ? Dengan sungguhsungguh dia menyahut,” Ingin terus bekerja keras, kaya raya, banyak istri, dan masuk surga.” (sumber: kerjasejahtera.blogspot.com)

Sekarang gerai Wong Solo telah berdiri hampir di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Keuletan Puspo Wardoyo dalam membesarkan warung makan ayam bakarnya menjadi idaman masyarakat memang tidak mudah. Ia harus merasakan terlebih dahulu berbagai cobaan, rintangan, halangan, hingga masa-masa sulit yang mencekam. Bermodalkan kesabaran, kerja keras, pantang menyerah, dan dibumbui ketaqwaan dalam menjalankan usaha berdasarkan syariat Islam, tak pelak ia mampu menorehkan prestasi yang gemilang, yakni ia mendapat penghargaan Enterprise-50 sebagai Waralaba Lokal Terbaik dari Pesiden RI, Megawati Soekarnoputri. Teruslah berkarya Puspo Wardoyo. Itulah kisah sukses pengusaha makanan yang menginspirasi dan patut kita contoh untuk pengembangan bisnis kita. Salam sukses selalu!

Sumber : profilpengusahasuksesindonesia.blogspot.com | 2014-04-14 
Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) awalnya memenuhi tugas dosen untuk membuat sebuah bisnis di sektor pertanian. Tugas dengan modal Rp 6 juta, kini jadi bisnis dengan omzet Rp 600 juta/tahun.

Kini bisnis lewat perusahaan bernama Adjuvant Herbisida ini, dipimpin oleh Puguh Roxa P.H, salah satu dari 3 mahasiswa IPB tersebut. Lewat bisnis ini, Puguh menjual pupuk cair organik dan pestisida organik. Bisnis pestisida ini yang menang dalam Wirausaha Muda Mandiri dengan hadiah Rp 50 juta.
"Awalnya ini hanya untuk tugas kuliah, waktu itu kami bikin bertiga. Proses pengerjaannya hampir 6 bulan. Kalau ditanya berapa modalnya, mungkin dalam 1 bulan kami habis Rp 1 juta, total habis Rp 6 juta. Ini mulai produksi Februari 2013 lalu. Pada 2013 lalu, dalam 1 bulan kami bisa memproduksi 500 botol, harganya per botol Rp 30 ribu," tutur Puguh kepada detikFinance dalam acara Wirausaha Muda Mandiri di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2014).

Pestisida yang dijual dibuat dari bahan alami. Untuk tahun ini, pemesan produk pestisida makin banyak, terutama dari pemilik lahan sawit. Puguh mengatakan, pihaknya berusaha memproduksi 3.000-7.000 botol per bulannya. Tiap botol, kapasitas pestisidanya 1 liter, yang menurutnya bisa digunakan untuk 1 hektar lahan sawit.

Saat ini, Adjuvant memiliki 5 pegawai tetap dan 15 pegawai harian. Lewat Wirausaha Muda Mandiri, Puguh menyatakan, pihaknya mencari jaringan pasar. Karena dirinya sulit untuk mendapatkan pasar yang besar.

"Tahun lalu omzet kami Rp 600 juta per tahun. Itu masih awal. Karena kebutuhan pestisida untuk sawit besar. Biasanya butuh 10 ribu botol, tapi kami belum sanggup memproduksinya," jelas Puguh.
"Jujur untuk pemasaran sangat sulit. Ini produk baru, kami perlu edukasi pasar yang jadi kendala. Semakin banyak yang tahu, maka semakin banyak yang pakai. Hebatnya produk kami dari bahan alami atau organik jadi lebih aman," kata Puguh. (detik.com/AH)


Dua tim mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad menerima penghargaan Ashoka Young Changemakers 2013. Penghargaan tersebut diberikan untuk para pemuda pembuat perubahan di bidang wirausaha sosial (social enterprise).  Dua tim yang masing-masing terdiri dari tiga orang mahasiswa ini  terpilih berdasarkan program kewirausahaan sosial yang mereka buat.

Mereka adalah Panji Aziz Pratama, Fitri Ismail, dan M. Sampurna Jaya dengan program “Sahaja Consulting” serta Aditya Rahmat Gunawan, Fiki Hari Nugraha, dan Septiar Dwi Putra yang menggagas “Goal Futsal Academy”.

Sahaja Consulting sendiri merupakan sebuah wadah konsultasi bagi para remaja di Indonesia melalui media sosial Facebook, Twitter, dan Blackberry Messenger. Program ini telah berjalan sejak 2 September 2013 lalu. Pelayanan yang diberikan oleh Sahaja Consulting ini berbasis individu dan kelompok, dengan menggunakan metode pekerjaan sosial.

Bertindak sebagai konsultan adalah Panji, Fitri, dan Sampurna. Ketiganya mengaku tertarik untuk membuka layanan konsultasi online karena selama ini belum banyak jasa konsultasi dengan memanfaatkan media sosial. Mereka menyasar konsumen dengan usia 11-24 tahun, yang biasanya memang pengguna aktif media sosial. Berbagai masalah klien pernah mereka tangani, seperti masalah terkait pendidikan, kesehatan, keluarga, persahabatan, hingga percintaan.

Sementara Goal Futsal Academy merupakan sebuah wadah latihan futsal bagi anak-anak kurang mampu dan mengalami pergaulan menyimpang di sekitar Jatinangor. Selain futsal, Goal futsal Academy juga memberikan fasilitas layanan bimbingan masa tumbuh kembang anak dengan metode group work. Hasil bimbingan tersebut, dilaporkan ke orang tua masing-masing di setiap bulannya.

(AH/Unpad.ac.id; sahajaid.blogspot.com; ycm-ashoka.blogspot.com)