sponsor

sponsor
Select Menu

Favourite

Berita

Acara dan Event

Inspirasi

Strategi

Profil

Hobi

Gaya Hidup

Ulasan Buku dan Software

Kuliner


Tris Wahyuni harus memutar otak agar dapat membiayai kebutuhan hidup bagi kedua anaknya yang saat ini berusia 15 tahun dan 9 tahun. Sebagai orang tua tunggal, Tris berani memulai bisnis makanan dari pengalamannya sebagai agen produk makanan Maicih.

Setelah beberapa tahun bekerja sebagai salah satu pegawai di bagian keuangan di sebuah kontraktor bangunan, Tris mulai beralih menjadi seorang agen penjual makanan Maicih.

"Kebetulan pada 2011 lalu nama keripik Maicih sedang booming sekali, saya ditawari menjadi salah satu agennya. Dalam sebulan saya bisa menjual 500-700 bungkus keripik Maicih," ucap Aties panggilan akrab Tris saat ditemui di Gelar Penerapan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian 2014 di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Rabu (19/3/2014).

Sesuai perkembangan waktu, ketenaran keripik berlogo wanita tua tersebut mulai menurun. Kondisi ini berdampak pada penjualan keripik Maicih yang untung per bungkusnya hanya Rp 200 per bungkus. Ia berkreasi dengan membuat keripik sendiri dari slondok atau keripik ubi.

"Karena makin turun penjualan keripiknya, saya berpikir buat keripik sendiri, jual sendiri. Namun keripik singkong orang mungkin akan bosan, saya kepikiran slondok, slondok sendiri merupakan camilan saya tiap hari. Saya modifikasi slondok tapi bumbunya seperti bumbu maicih," kata wanita warga Bandung ini.

Pada 2012, Etis memulai memasarkan keripik slondok dengan jaringannya selama ini, dari media sosial, teman-teman dan lainnya.

"Karena keripik slondok ini baru, dengan merek Srikandi, sebulan rata-rata terjual 900 bungkus per bulan, tetapi dibandingkan jual maicih dulu 500-700 bungkus sekarang bisa 900 bungkus per bulan, apalagi ini buat sendiri," ucapnya.

Etis mengungkapkan, agar slondoknya tersebut tetap disukai para pelanggannya, bumbu yang ia gunakan murni dari bahan alami dan bukan dari perasa makanan.

"Cabainya saya tumbuk sendiri, daun jeruknya juga bukan perasa makanan jadi murni daun jeruk ditumbuk dan bumbu-bumbu yang bebas MSG," ungkapnya.

Kini Aties bisa meraup keuntungan hingga 75% dari menjual produk sendiri. Produknya dijual dengan rentang Rp 10.000-Rp 15.000 per bungkus, dan mampu menjual 900 bungkus per bulan.

"Saya juga buat bungkusan kecil yang dititipkan di toko-toko seperti di toko dekat stasiun, pangkalan ojeg dan bungkusan kecil ini agar pembeli bisa makan langsung habis. Ini juga akan saya kembangkan agar ada di setiap minimarket," tutupnya.

Aties membuka kerjasama bagi pihak lain yang ingin menjual kembali produknya (reseller). Alamat : Kota Baru No 11, Bandung, email: atiestora@ymail.com

Sumber : Detik Finance

Alunan musik gesek yang dimainkan Haidy Bing Slamet (32), warga Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini sangat menyayat hati. Lagu percintaan khas using Banyuwangi "Impen-impenen" diiramakannya dengan biola yang dibuatnya itu. Menambah suasana magis lagu using itu.

Selain mahir memainkan alat musik yang berasal dari Eropa tersebut, Haidy atau biasa dipanggil Edy ini, juga sangat mahir membuatnya. Sudah 10 tahun dirinya menekuni pekerjaan membuat biola. Edy mengaku belajar secara otodidak untuk membuat biola itu. Dirinya mengaku beli biola jadi dan kemudian membongkarnya.

"Saya dulu beli biola terus saya bongkar dan saya coba membuat cetakan biola. Setelah itu saya coba bikin biola sendiri," ujarnya pada , Jumat (4/4/2014) sembari menunjukkan biola perdananya yang tak dijual.

Edy menekuni pekerjaan membuat biola ini karena keterpaksaan, lantaran pembuat biola di Banyuwangi meninggal dunia. Jika beli pun, Edy mengaku terlalu mahal. Berbekal kenekatan membongkar biola satu-satunya itu, akhirnya Edy menerima banyak pesanan. Pesanan datang biasanya dari pembeli lokal di Banyuwangi. Namun tidak jarang biola buatan Edy ini dipesan dari luar kota bahkan luar negeri.

"Sudah banyak pesanan yang saya buat. Yang paling jauh dari Prancis, turis datang ke rumah minta dibuatkan biola dari serpihan kayu yang disatukan, sulitnya minta ampun,"tambahnya.

Untuk bahan baku biola, Edy mengaku memilih kayu yang bagus. Mulai dari kayu jati, mahoni, sentul, dan ijoan. Terkadang Edy mencari kayu eben yang banyak tumbuh di Sulawesi. Biasaya, untuk bahan biola atau tabungnya, Edy memilih kayu yang tidak padat seratnya, sementara untuk kayu kerasnya digunakan untuk aksesoris dan papan senar.

"Kayunya harus pilihan. Jika tidak bunyi biolanya tidak enak. Untuk kayu eben sulit dicari, tapi di Banyuwangi ada gantinya dengan menggunakan kayu sonokeling dan kayu laban," ujar pria berjambang ini.

Sementara untuk alat geseknya, Edy mengaku membuatnya dari senar pancing biasa. Sebab, dulu alat gesek menggunakan ekor kuda.

Untuk harga, Edy mematok harga Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per biola buatannya. Selama sebulan, Edy bersama dengan 4 orang tukang kayu dari desa-nya membuat 8 biola. Minimnya jumlah biola yang dibuatnya, lantaran rumitnya pengerjaan biola dan saat ini Edy bersama rekannya masih menggunakan alat tradisional.

"Omzet perbulan bisa sampai 5 juta. Sisanya adalah ongkos tenaga kerja dan bahan," tambahnya.

Untuk saat ini, kata Edy, minat pembelian biolanya meningkat. Dirinya mengaku kewalahan lantaran banyaknya pesanan dari Banyuwangi maupun luar Banyuwangi.

Saat ini, selain membuat biola, Edy mengaku sedang sibuk melatih anak-anak di desanya agar mahir memainkan biola. Setiap hari ada 3 sampai 5 anak-anak usia 7 sampai 15 tahun belajar biola. Bahkan jika berkenan pun, orang yang memesan biolanya juga akan diajari memainkan biola.

"Itu service saya kepada pelanggan. Tapi kalau anak-anak kecil ini agar ada penerus pemain biola di Banyuwangi, khususnya pemain musik di sini," tandas pria lajang ini.

Alat musik dari Eropa ini masuk dalam seni musik Banyuwangi dibawa oleh Belanda pada masa penjajahan lalu. Biasanya, biola digunakan untuk kesenian gandrung dan kesenian khas Banyuwangi lainnya, sebagai melody menggantikan suling. Dan perbedaan biola Eropa dan biola khas Banyuwangi, adalah nada-nada serta laras yang berbeda.

Sumber : Detik Finance
Salesforce.com, perusahaan cloud computing yang saat ini menjadi salah satu perusahaan paling terkenal di Amerika Serikat, minggu depan akan merayakan ulang tahun ke 15.

Perusahaan itu didirikan oleh Marc Benioff. Seperti diberitakan Business Insider, Senin 3 Maret 2014, Salesforce.com menyewakan perangkat lunak mereka melalui internet, bukan menginstalnya di komputer.

Saat pertama kali diluncurkan Salesforce.com, bubble industri internet pecah. Tetapi, perusahaan yang dipimpin oleh Benioff ini mampu bertahan. Nah, siapakah Benioff?

Di industri teknologi, ia dikenal sebagai sosok yang murah hati dan berkepribadian sangat baik. Menurut Forbes, jumlah kekayaan yang dimilikinya mencapai US$2,71 miliar. Sebagian besar kekayaannya dia peroleh dari kesuksesan Salesforce.com.

Benioff pernah bekerja sebagai marketing dan pemasaran di Oracle pada 1986 hingga 1999. Selama 13 tahun bekerja, seperti dikutip dari CNN, dia berhasil mengumpulkan US$300.000.

Saat ini, Benioff memiliki perkebunan seluas lima hektare di Hawai. Menurut Honolulu Magazine, Benioff juga memiliki rumah mewah di pulau itu. Rumah mewah seluas 9.821 meter persegi itu memiliki enam kamar tidur dan tujuh kamar mandi.

Dilaporkan Wall Street Journal, pada 2006, dia membeli tanah seharga US$12,5 juta pada tahun 2000 dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merancang desain rumah mewah itu. Bahkan, dia meluncurkan perusahaan konstruksi khusus untuk membangun rumah mewah tersebut. Entah mengapa, dia begitu mencintai Hawaii.

Benioff, seorang pria yang menyukai yoga dan meditasi. Dia sekarang tinggal di San Francisco di rumahnya yang elegan. Dia juga memilih San Francisco sebagai kantor pusat Salesforce.com. Sejak itu, perusahaannya menjadi pendukung besar perkembangan kota San Francisco.

Baru-baru ini dia menandatangani perjanjian untuk membuka pusat data Salesforce.com di Inggris. Tak berapa lama setelah Benioff mendapat undangan makan siang dengan Presiden Prancis, Francois Hollande, dia pun mengumumkan rencana membuka pusat data Salesforce.com di Prancis.

Sisi lain dari seorang Benioff yakni ia merupakan pecandu gadget, dia memiliki gelang yang tersambung dengan internet. Salah satu temannya, CEO Dell Computer, Michael Dell juga menggunakan gelang yang sama. Mereka berdua sering melakukan fitnes bersama.

Saat berjauhan dan merindukan untuk bisa berolahraga bersama, Benioff menggunakan gelang yang dilengkapi alat pelacak itu untuk menelfon Dell.

Sikat gigi yang ia gunakan setiap hari pun, dia rancang untuk bisa menyambung dengan internet.

Saat berusia 15 tahun, dia menjadi pengembang perangkat lunak yang ajaib. Di usianya yang masih anak-anak pada 1979, dia mendirikan perusahaan pertamanya, Liberty Software, yang menciptakan Atari video game.

Pekerjaan pertamanya adalah bekerja untuk Steve Jobs di Apple. Steve Jobs mempekerjakannya, karena tertarik dengan Atari video game buatannya. Di Apple, dia bekerja di divisi Macinthos yang mengurusi perangkat lunak. Dia bekerja di Apple hingga 1984.

Beberapa tahun setelah keluar dari Apple, dia kemudian mendirikan Salesforce.com. Dia mengaku terinspirasi dengan Steve Jobs, ia pun mulai mendirikan Salesforce.com dengan Steve Jobs sebagai penasihat utamanya.

"Tidak akan pernah ada Salesforce.com tanpa Steve Jobs. Banyak hal yang telah ia lakukan saat awal berdiri dan pengembangan perusahaan saya. Dia inspirasi saya," ujar Benioff.
Dia menceritakan kisah tersebut pada saat menghadiri pemakaman Steve Jobs. Di sisi lain, Benioff ternyata memiliki hubungan yang tidak baik dengan CEO Oracle, Larry Ellison.

Seperti diketahui, resign dari Apple, Benioff bekerja di Oracle hingga 1999.  Saat Salesforce.com dibentuk, diketahui Ellison menginvestasikan US$2 juta. Namun, dalam perkembangannya kedua perusahaan itu ternyata seperti saling bersaing.

Episode yang paling terkenal adalah saat Ellison mengusir Benioff pada sebuah konferensi yang diadakan Oracle. Padahal, saat itu Benioff dijadwalkan memberikan keynote speech.
Belakangan mereka baru saja berdamai atas kejadian itu. Tetapi Oracle masih menganggap Salesforce.com sebagai pesaing utamanya.

Sumber : VivaNews | 2014-04-14 

Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) awalnya memenuhi tugas dosen untuk membuat sebuah bisnis di sektor pertanian. Tugas dengan modal Rp 6 juta, kini jadi bisnis dengan omzet Rp 600 juta/tahun.

Kini bisnis lewat perusahaan bernama Adjuvant Herbisida ini, dipimpin oleh Puguh Roxa P.H, salah satu dari 3 mahasiswa IPB tersebut. Lewat bisnis ini, Puguh menjual pupuk cair organik dan pestisida organik. Bisnis pestisida ini yang menang dalam Wirausaha Muda Mandiri dengan hadiah Rp 50 juta.
"Awalnya ini hanya untuk tugas kuliah, waktu itu kami bikin bertiga. Proses pengerjaannya hampir 6 bulan. Kalau ditanya berapa modalnya, mungkin dalam 1 bulan kami habis Rp 1 juta, total habis Rp 6 juta. Ini mulai produksi Februari 2013 lalu. Pada 2013 lalu, dalam 1 bulan kami bisa memproduksi 500 botol, harganya per botol Rp 30 ribu," tutur Puguh kepada detikFinance dalam acara Wirausaha Muda Mandiri di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2014).

Pestisida yang dijual dibuat dari bahan alami. Untuk tahun ini, pemesan produk pestisida makin banyak, terutama dari pemilik lahan sawit. Puguh mengatakan, pihaknya berusaha memproduksi 3.000-7.000 botol per bulannya. Tiap botol, kapasitas pestisidanya 1 liter, yang menurutnya bisa digunakan untuk 1 hektar lahan sawit.

Saat ini, Adjuvant memiliki 5 pegawai tetap dan 15 pegawai harian. Lewat Wirausaha Muda Mandiri, Puguh menyatakan, pihaknya mencari jaringan pasar. Karena dirinya sulit untuk mendapatkan pasar yang besar.

"Tahun lalu omzet kami Rp 600 juta per tahun. Itu masih awal. Karena kebutuhan pestisida untuk sawit besar. Biasanya butuh 10 ribu botol, tapi kami belum sanggup memproduksinya," jelas Puguh.
"Jujur untuk pemasaran sangat sulit. Ini produk baru, kami perlu edukasi pasar yang jadi kendala. Semakin banyak yang tahu, maka semakin banyak yang pakai. Hebatnya produk kami dari bahan alami atau organik jadi lebih aman," kata Puguh. (detik.com/AH)



Untuk menjadi pengusaha sukses di bidang kuliner ternyata tidak harus bisa atau jago masak. Contohnya yang dialami oleh Andi Nata yang merupakan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), berhasil mengembangkan bisnis masakan aqiqah.

Andi Nata yang mengambil Jurusan Teknik Mesin, seperti tidak cocok dengan bisnis yang ia tekuni karena ia tidak bisa memasak sama sekali. Bisnis Aqiqah yang ia kembangkan menyediakan masakan yang identik dengan sate dan gulai kambing.

"Jujur, saya tidak bisa masak, apalagi mengolah masakan sate atau gulai kambing. Tapi hasil masakan saya sudah masuk ke Hotel Four Seasons dan tiga hotel bintang empat lainnya di Jakarta," ujar Andi.

Menurutnya menekuni bisnis kuliner tidak selalu bisa masak. Berkaca pada kemampuannya yang sama sekali tidak bisa masak namun ingin punya bisnis kuliner, dirinya harus 'berkelana' mencari juru masak handal.

"Saya punya niat besar untuk buka bisnis aqiqah, namun tidak bisa masak, untuk mewujudkan keinginan saya, maka ide saya tidak lain mencari juru masak andal. Namun pencarian tersebut tidaklah mudah, cukup banyak juru masak yang menolak khususnya dalam memberikan resep rahasianya," ungkap Andi.

Ia mengakui sangat susah mencari juru masak yang enak dan mau diajak kerjasama. Tak habis akal Andi pun melancarkan berbagai trik, salah satunya bersilaturahmi atau mengunjungi orang-orang yang ia 'incar'.

"Ya, dengan niat bersilaturahmi orang tak akan mungkin mengusir saya, walaupun kenal saja tidak. Sambil main ke rumah juru masak yang saya incar, hampir tiap hari tidak lupa membawa jajanan, seperti coklat, biskuit, dan lain-lain untuk anaknya, ya istilahnya nyogok," tuturnya.

Akhirnya, hampir 2 (dua) minggu silaturahmi sambil mengungkapkan keinginan tulusnya, akhirnya si juru masak yang ia incar hatinya pun luluh. "Dia mau jalin kerjasama, hingga sampai saat ini," ucapnya.

Apa yang membuat usaha aqiqah yang diberi nama Raja Aqiqah. Klaim Andi tidak lain karena kualitas bahan utama dan cita rasa masakannya yang jauh dibandingkan yang lain.

"Bahan bakunya bukan kambing seperti pada umumnya, tapi daging domba yang merupakan perkawinan domba Afrikan F1 dengan domba Jawa Barat. Hasilnya dagingnya empuk dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol," ungkap

Keunggulan tersebut membuat pelanggannya senang, dan menjadikan rekomendasi para calon pelanggannya yang lain. "Tidak kurang dalam sehari 2-5 domba yang disembelih atau rata-rata 100 domba tiap bulan," ungkapnya lagi.

Perhitungan bisnis Andi sederhana, dalam sebulan tidak kurang ada 1.000 acara aqiqah hanya di Jakarta saja."Kalau saya ambil pasar 2% saja, sudah besar sekali," ucap pria kelahiran 5 Januari 1989 ini.

"Bahkan saat ini, peternakannya tidak mampu memenuhi permintaan pesanan. Untuk memenuhi permintaan, saya membina sekitar 10 kelompok peternak domba yang tersebar di Cirebon, Depok, dan di daerah Jawa barat lainnya," kata Andi.

Andi pun tidak menutup peluang pihak lain untuk menjalin kerjasama. Ia mengaku kini omzet bisnisnya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan "Simpel saja kerjasamanya, kita bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih," pungkasnya. (AH/detik.com)